MAGELANG – Tim PKM-PM PEDATI hadir sebagai bintang tamu dalam workshop inklusif yang berlangsung di Balai Desa Bulurejo, Magelang, pada Sabtu, 24 Oktober 2026. Pada acara yang diselenggarakan oleh HIMPAUDI, PEDATI menampilkan Pentas Tari Inklusif 3, yakni lanjutan dari program PEDATI yang pertama, untuk menunjukkan bahwa anak berkebutuhan khusus (ABK) mampu tampil dan berkarya di depan publik.
Pada pentas tersebut, lima anak menarikan sebuah tarian dengan lagu “Lir-Ilir” sebagai pengiring. Lagu daerah ini sarat akan makna kehidupan dan sudah lekat di telinga masyarakat. Dua anak lainnya menyanyikan lagu tersebut secara langsung di samping para penari. Pembagian peran tersebut menegaskan bahwa setiap anak mampu berpartisipasi sesuai dengan potensi yang dimilikinya.
Kehadiran mereka di hadapan peserta workshop menjadi pengalaman nyata tentang pentingnya inklusivitas. Setelah memperoleh materi mengenai pendidikan dan lingkungan yang inklusif, para peserta dapat menyaksikan secara langsung bahwa anak berkebutuhan khusus memiliki potensi yang layak dikembangkan dan diapresiasi.
Pentas ini sekaligus mengingatkan bahwa inklusivitas tidak cukup berhenti pada pemahaman atau slogan. Inklusivitas perlu diwujudkan melalui kesempatan nyata, dukungan berkelanjutan, dan lingkungan yang menerima setiap anak tanpa membatasi potensinya.
Pentas Tari Inklusif 3 bukanlah kegiatan yang berdiri sendiri. Setelah masa pelaksanaan PKM-PM berakhir, Tim PEDATI tetap mendampingi dan memantau perkembangan ABK, baik sebelum maupun sesudah pentas. Pendampingan yang berkesinambungan ini dilakukan supaya manfaat program terus dirasakan meski kegiatan telah selesai.
Hasilnya pun mulai terlihat. Lewat pentas ini, ABK menampakkan efikasi diri yang kuat, yaitu keyakinan terhadap kemampuan yang mereka miliki. Mereka tampil lebih berani dan percaya diri, serta terlihat menikmati kesempatan mengekspresikan diri di hadapan penonton.
“Pentas ini tidak sekadar pertunjukan, tetapi juga ruang bagi anak-anak untuk membuktikan bahwa mereka mampu. Kami melihat langsung bagaimana keyakinan diri mereka berkembang dari waktu ke waktu,” ujar salah satu guru Rumah Pintar SD Negeri Bulurejo1.
Melalui kegiatan ini, Tim PEDATI berharap semakin banyak pihak, baik masyarakat, pemerintah desa, maupun lembaga pendidikan terdorong untuk membuka ruang-ruang inklusif bagi ABK di lingkungan masing-masing.